Jalan Nur Rahmi

image source: elmina-id.com

Aku duduk di ruang tamu. Perbincangan tadi membuatku sedikit terkejut akan secangkir teh yang datang dan disajikan kepadaku. Aroma harum dari uap teh yang merangsang indra penciumanku itu malah terkalahkan oleh sesosok wanita yang telah mengantarkannya. Wanita itu lalu ikut duduk di ruang tamu sambil mendekap nampannya. Sekarang ada dua orang di hadapanku. Tangan kanan wanita itu kemudian merangkul tangan pasangannya dan merapat kepadanya. Tangan kirinya yang masih memegang nampan tergeser sehingga perutnya yang sudah terisi itu terlihat olehku, kira-kira mungkin lima bulan.

Di kota ini sesungguhnya aku ada pertemuan dengan suatu perusahaan untuk memenuhi permintaan kontrak kerja sama dengannya besok. Namun, karena aku tiba di kota ini terlalu cepat, hari ini merupakan suatu kesempatan yang sangat baik untuk bersilaturahmi—dari sekian lama tidak berjumpa—enam tahun semenjak kami lulus SMA. Melihat dirinya membuatku tidak berkutik, aku sedikit pangling.

“Zaky, bagaimana kabarmu?” wanita itu memulai percakapan setelah hening beberapa saat tadi.

Dia, Nur Rahmi. Aku hanya tidak menyangka, kehidupannya sekarang benar-benar di luar dugaanku.

“Tiga tahun yang lalu, sepucuk surat datang kepadaku. Di situ tertera namamu dan nama pria yang sekarang berada di sebelahmu. Melihatnya aku sedikit terkejut. Tidakkah itu terlalu dini untukmu, Rahmi?”

Rahmi tersenyum kepadaku dan menggelengkan kepalanya.

“Gadis yang dijuluki reinkarnasi Einstein di sekolah karena kecerdasannya. Selalu mendapatkan ranking satu, bahkan se-provinsi. Gadis yang disebut-sebut memiliki masa depan yang sangat cerah. Gadis yang ingin sekali berkarir sejak dulu. Sekarang dia berada di depanku, sebagai ibu rumah tangga. Apa yang membuatmu sehingga membuang ambisimu itu?”
“Semua orang bisa berubah, Zak.” Rahmi menyenderkan kepalanya ke pundak suaminya.

Rahmi menatapku, matanya terlihat teduh. Senyum yang tersungging di wajahnya tidak berubah, tetap manis seperti di saat pertama kali kami bertemu. Melihat dirinya seolah-olah tidak ada beban, tidak ada penyesalan sama sekali atas keputusan hidupnya. Dasar, Wanita yang berhijab ini sukses membuat banyak sekali pertanyaan di dalam benakku.

***

“Assalamualaikum anak-anak. Kita kedatangan murid baru,” ujar guru sembari memberiku kode untuk memperkenalkan diri.
“Assalamualaikum, selamat pagi. Perkenalkan namaku Zaky Arya, biasa dipanggil Zaky. Senang bisa berkenalan dengan kalian.” Mataku menyelidik mencari seorang siswi.
“Waalaikumsalam,” serempak murid-murid membalas salamku.

Tidak lama akhirnya ketemu juga, tatapanku terhenti melihat seorang siswi berjilbab. Wajahnya yang sudah familiar di media cetak itu ternyata sedang tersenyum ke arahku—menyambut kedatanganku. Begitulah pertama kali kami bertemu, aku dengan Nur Rahmi saat kelas dua SMA.

Suatu hari di jam istirahat, seorang siswa merangkulku dari belakang.

“Seleramu tinggi juga, anak baru,” ucap Yahya, siswa yang merangkulku itu.
“Tidak, aku hanya memandanginya saja, dia murid terpintar di sekolah ini, kan?” Aku yang tepergok memandang Rahmi dari kejauhan memberi alasan.

Sesungguhnya aku sudah tahu tentangnya sejak lama. Bagaimana tidak, siswi terpintar se-provinsi, wajahnya yang terpampang di berbagai koran membuat dia terkenal, terutama di kalangan murid yang berprestasi di sekolah-sekolah sekitarnya. Ya, aku ini bisa dibilang salah satu dari siswa di kalangan itu.  Tujuanku pindah ke sekolah ini pun karena ingin bertemu langsung dengannya.

Errr, dia itu bahkan dijuluki Re, Zak,” balas Yahya.
“Re?”
“Re, singkatan dari reinkarnasi Einstein. Semua murid memanggilnya dengan sebutan itu.” Tiba-tiba Yahya melambaikan tangannya ke arah Rahmi. “Hai, Re! Bagaimana kabarmu?”

Rahmi yang sedang berjalan keluar kelas menengok ke arah kami.

“Alhamdulillah baik, Kamu itu selalu bersemangat ya, Yah.” Rahmi menunjukan gigi serinya.
“Tentu saja! Hihihi.” Yahya pun membalas senyumnya.

Jam pelajaran kosong pernah terjadi juga di sekolah ini. Sudah suatu hal yang wajar jika Rahmi maju ke depan untuk menggantikan posisi guru yang berhalangan hadir itu. Padahal dia baru kelas dua SMA, tetapi dia begitu percaya diri. Kegugupan yang tidak telihat sama sekali dan artikulasinya yang jelas membuat dia menerangkan pelajaran layaknya seorang guru profesional.

Seorang siswa mengangkat tangan sambil menundukan wajahnya.

“Professor Re.”
“Ya, ada yang ingin ditanyakan?”

Lalu siswa itu menyibak rambutnya ke atas dan menatap Rahmi.

“Setidaknya beri kami suatu formula agar bisa mendapatkan hatimu, prof.”

Serentak seisi kelas tertawa. Ya, siswa itu Yahya. Aku menggeleng-gelengkan kepala betapa konyolnya dia. Rahmi menempelkan telunjuk di depan bibirnya dan berdesis, menyuruh kami untuk tenang—jangan berisik. Rahmi mengesampingkan permintaan yang tidak penting itu. Katanya, itu diluar dari materi yang telah dijelaskan.

Awalnya aku tidak terlalu menangkap maksud dari permintaan Yahya kepada Rahmi. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku pun tahu. Di saat itu aku sedang memandang keluar jendela, melihat-lihat pemandangan halaman belakang sekolah dari lantai tiga. Aku tidak sengaja melihat sepasang murid sedang saling berhadapan. Lamat-lamat aku melihat siswi yang aku kenal, Dia adalah Rahmi! Dia bersama siapa? Pikirku dia bersama seorang kakak kelas.

“Korban baru.” Yahya tiba-tiba muncul dari belakang dan memberikanku minuman yang aku minta titip kepadanya.
“Korban?”
“Lihat saja.”

Walaupun aku dan Yahya tidak mendengar percakapannya, tindakan mereka berdua sudah bisa menggambarkan apa yang sedang terjadi. Aku melihat Rahmi meminta maaf, dan pergi meninggalkan kakak kelas itu. kakak kelas itu terdiam sampai Rahmi benar-benar menghilang dari pandangannya, lalu kakak kelas itu berjalan ke suatu pohon dan memukulnya. dia baru saja ditolak oleh Rahmi.

“Wew, cinta yang bertepuk sebelah tangan,” komentarku sambil menenggak minuman.
“Hahaha, pertunjukan ini sudah sering terjadi. Sepertinya tidak ada laki-laki di sekolah ini yang bisa menarik perhatiannya,” tanggap Yahya.

Mendengar itu aku langsung tersendat.

“Uh-uhuk, masa?” Aku mengelap bibirku dengan tangan. “tipe laki-laki seperti apa yang disukai olehnya?”
“Entahlah, banyak rumor yang mengatakan bahwa kita-kita yang dianggapnya bodoh ini merupakan serangga yang tidak pantas bersandang dengannya. Katanya, Jika kamu ingin dipandang oleh Re, lampaui dia, karena Re selalu fokus ke depan. Memiliki pasangan baginya merupakan hal sepele yang akan mengganggu akademik dan tujuannya.”
“Memang apa tujuannya?” tanyaku.
“Re pernah berkata di depan kelas. katanya, dia ingin menjadi wanita karir. Dia selalu mengatakan kehidupannya akan berfokus ke arah sana. Re benar-benar tidak bisa dijangkau.”
“Apakah dia akan menikah dengan seorang dewa?” tanyaku asal.
“Hahaha, yang benar saja?!” Yahya terpingkal-pingkal. “Tapi seluruh sekolah pun tahu, Re akan memiliki masa depan yang sangat cerah, bukan?”

Wanita yang bisa melakukan apapun. Memang tidak perlu dikhawatirkan lagi akan masa depannya. Tetapi aku membencinya, karena dia selalu berada di peringkat pertama.

“Waw, nilai yang sangat memuaskan,” ucap Yahya mengintip hasil ujianku dari belakang. “96.”

Jelas, aku merupakan siswa terpintar di sekolahku dulu. Wajar jika aku mendapatkan nilai di atas 90.

“Memang berapa hasil ujianmu, Yah?” timpalku.
“Berbeda sepuluh poin denganmu, 86.”
“Bagaimana dengan Rahmi?”
“Re? Jangan ditanya.”

Rahmi selalu segera memasukan lembar jawabannya jika hasil ujian telah dibagikan. Dia tidak begitu memikirkan hasilnya dan berlalu begitu saja. Tindakan dia membuatku kesal. Benar saja, ketika aku melihat papan pengumuman, nama ‘Nur Rahmi’ berada di paling atas—dengan nilai 100.

Sekeras apapun aku belajar dan berusaha, itu tidak membuatnya meliriku. Nama ‘Zaky Arya’ selalu di bawah nama ‘Nur Rahmi’. Ketika aku menambah jadwalku mengikuti kelas tambahan dan memperbanyak belajar malam, namaku tetap di bawah namanya. Keberadaanku tidak mencuri perhatiannya.

Itu benar-benar membuatku jengkel, selalu menjadi nomer dua di sekolah ini. Padahal aku merupakan murid nomer satu di sekolahku dulu. Padahal aku sudah berusaha dengan keras. Padahal sekarang dia nyata ada di depan mataku. Tetapi itu sama sekali tidak membuatku dapat mengejar dirinya. Benar yang dikatakan oleh Yahya, dia itu tidak terjangkau. Bahkan sampai kelulusan SMA pun, aku tetap menjadi nomer dua.

“Untuk testimoni diberikan kepada siswi Nur Rahmi untuk berbicara.”

Guru mempersilahkan gadis berhijab itu melangkah ke podium yang disediakan sebagai perwakilan murid-murid di sekolah ini.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Rahmi memberikan salam kepada murid-murid. “Ketika kita mengasah pisau, tentu kita akan mengasahnya di bagian yang sama agar pisau itu menjadi tajam. Begitu juga dengan kesuksesan, kesuksesan mudah diraih jika kita fokus memandang ke depan, hanya memandang tujuan kita.

“Seorang pianist hebat memainkan piano lebih dari dua jam setiap harinya. Pelukis dan penulis, menghabiskan banyak waktunya untuk menghasilkan karya yang hebat. Seorang atlet melakukan latihan setiap harinya hingga juara. Mereka menjadi hebat tidak instan, mereka membutuhkan proses, konsistensi, dan fokus.

“Aku memiliki cita-cita, yaitu dapat menjadi bagian penting di suatu perusahaan yang terkenal. Mungkin menurut sebagian orang itu bukan cita-cita yang besar, tetapi aku ingin menunjukan bahwa perempuan bisa berkarir juga. Perempuan bisa melakukan apa yang diinginkannya juga. Oleh karena itu, aku akan fokus mengejar cita-citaku itu. Aku berharap, keinginan kecilku ini bisa menjadi inspirasi untuk kita semua yang mendengarnya.”

Setelah pidato yang singkat itu, Rahmi mengucapkan salam dan turun dari podium. Aku bisa mendengar sorak guru dan murid-murid memuji dirinya, seorang siswi nomer satu di sekolah ini, bahkan se-provinsi. Aku akui aku memang takjub dengannya. Hanya saja, aku kesal merasa terkalahkan dan selalu menjadi nomer dua. Aku dan Rahmi setelah lulus mengambil universitas yang berbeda. Menempuh jalannya masing-masing.

***

“Apa yang membuatmu berubah menjadi seperti ini, Rahmi?” Aku bertanya sekali lagi dengan penuh penekanan. Aku menyeruput cangkir yang berisi teh yang telah dihidangkan oleh Rahmi.

Rahmi yang mendengar pertanyaanku mulai duduk tegak dan menaruh nampannya ke meja yang berada di depannya.

“Bukannya ini baik, Zaky. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk berintropeksi diri lagi,” jawab Rahmi.
Aku yang masih bingung bertanya lagi, “Berintropeksi diri tentang apa?”
“Tentang dunia ini.”

Mendengar jawaban Rahmi, aku masih diam tidak mengerti.

“Kita sudah masuk ke perusahaan yang diinginkan, lalu apa?”
“Naik jabatan,” jawabku singkat.
“Untuk apa?”
“Agar mendapatkan pengalaman lebih dan finansial yang membaik.”
“Setelah itu, menjadi lebih kaya?”
“Iya, agar menjalani hidup lebih mudah.”
“Kita sudah menjadi kaya dan banyak pengalaman, apa yang akan kita lakukan?”
“Memakainya.”
“Lalu kita lakukan itu berulang-ulang, mau sampai kapan?”
“Sampai puas.”
“Kapan?” tanyanya lagi dengan penuh penekanan. “Apakah kamu sudah merasa puas, Zaky? Seorang yang sudah menjadi direktur utama di suatu perusahaan.”

Mendengar perkataan Rahmi, membuat aku terperangah. Rahmi ternyata tahu tentang diriku yang sekarang menjabat menjadi direktur utama. Di samping itu aku juga berpikir, besok aku akan melakukan pertemuan untuk menandatangani kontrak. Pikirku, itu akan lebih mudah kedepannya jika bekerja sama dengan perusahaan lain. Lebih mudah untuk apa? Mendapatkan finansial yang lebih baik? Prestise? Kepuasan baru? Iya itu memang benar, aku ingin mendapatkan hal itu.

Aku pun menjawab pertanyaan Rahmi dengan suara yang lirih, “Belum.”
“Kita memang tidak pernah puas, ya,” timpal rahmi.

Setelah perkataan terakhir Rahmi, tiba-tiba ada suara tangisan anak menggema dari suatu kamar di rumah ini. Anak yang umurnya sekitar dua tahun itu pun muncul menuju ruang tamu dan mengucek-ngucek matanya.

“Huhuhu, mamah.” Tangan anak yang satu lagi menyeret boneka beruang, aku bisa menebak dia habis bangun tidur.
“Sini, sini Aisyah. Mamah tidak pergi kemana-mana.” Rahmi merentangkan tangannya ke arahnya.

Diangkatnya anak itu setelah dia menghampirinya. Menaruh di pahanya dan memeluknya. Tangan rahmi lalu mengusap-usap punggungnya. Suara isak tangis anak itu lama-kelamaan mulai mereda.

Aku yang melihat pemandangan itu sedikit tidak percaya, seorang Rahmi ternyata bisa melakukan hal itu.

“Kita hidup di dunia berapa lama, Zaky?”

Aku masih tertegun melihat Rahmi. Semakin banyak pikiran yang berkecamuk di benakku.

“Sekitar 60 sampai 70 tahun,” lanjut Rahmi. “itu waktu yang sangat singkat, kan? Buatlah diri kita jadi lebih bermanfaat. Harta, tahta, kehormatan, semua hal tentang dunia ini tidak akan dibawa mati, yang menemani kita nanti hanya amalan kita.”

Rahmi lalu mencium ubun-ubun anaknya. Diangkatnya anak itu lagi, menempelkan hidung Rahmi ke hidung anaknya. Anaknya yang merasa geli atas tindakan ibunya itu tertawa dan tangannya mendorong balik muka ibunya.

“Doa dari anak yang sholeh, salah satu amalan yang tidak akan terputus walaupun kita telah dikuburkan.” Rahmi terdiam sejenak. ”Oleh karena itu, aku ingin membuat anak-anaku nanti menjadi anak yang sholeh.”
“Kamu bisa menitipkannya di pesantren, Mi,” ucapku berdalih walaupun aku sudah tahu, tapi aku benci mengakuinya.
“Zaky, kamu pun tahu, pendidikan terbaik anak adalah di saat bersama orang tuanya.”

Jengkel, Aku kira sepucuk surat pernikahan itu merupakan bendera putih yang dikibarkan olehnya. Tetapi nyatanya, dia masih berada jauh di depanku. Dia tetap terus melangkah ke depan. Sampai detik ini, aku tidak mendekatinya sedikitpun. Langkah yang ditempuh oleh Rahmi sudah jauh, menuju kehidupan akhirat. Sedangkan aku? Langkahku masih berkutat di dunia ini.

“Rahmi, aku benar-benar membencimu,” ucapku.

Tapi Rahmi malah tersenyum mendengarnya. Aku melihat jam tangan yang berada di tangan kiriku. Jarum pendek sudah menunjuk ke arah angka 5. Sepertinya sudah saatnya aku harus pulang ke wisma yang telah dipesan. Seketika aku teringat Yahya, teman SMA-ku itu.

“Rahmi.”
“Hm?”
“Bagaimana kabar Yahya? Dia satu univesitas denganmu waktu itu, bukan?”
“Sekarang dia menjalani bisnis bubur, Zak,” jawab Rahmi.

Entah, setelah perbincanganku dengan Rahmi yang mengenai tujuan hidup itu membuatku tidak mementingkan lagi setiap profesi yang diembani orang lain. Aku yakin Yahya pun memiliki alasan kenapa dia hanya menjadi ‘tukang’ bubur.

“Dasar, si konyol itu,” komentarku singkat, lalu terdiam sejenak. “Rahmi, aku izin pamit dulu.”
“Terburu-buru sekali, masih sore ini, Mas,” sanggah suami Rahmi.
“Iya benar, masih sore ini, Zak.” Rahmi menyetujui suaminya.
“Ada yang harus aku persiapkan untuk pertemuan besok.” Aku meminta maaf kepada suami Rahmi, lalu berganti pandangan ke arah Rahmi dan teringat sesuatu, “Besok aku akan bertemu dengan Gandi Herlambang, dia itu satu universitas bahkan sejurusan denganmu dulu. Kamu mengenalnya, Mi?”
“Oh, Gandi, aku mengenalnya. Aku dengar dia sekarang menjadi direktur utama juga di suatu perusahaan, jadi kamu besok bertemu dengannya?”
“Iya,” jawabku singkat sambil berdiri dan berpamitan kepada suami Rahmi dan Rahmi.
“Zaky, bagaimana perasaan kamu telah menjadi direktur utama?”

Aku mengerti, walaupun Rahmi memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, tetapi itu bukan berarti membuat ketertarikannya terhadap karir benar-benar hilang.

“Senang, tetapi tidak menjadikan aku melebihi dirimu, Rahmi.”

Aku pun mengucapkan salam dan pergi meninggalkan rumah ini. Kami saling melambai-lambaikan tangan. Tangan Rahmi memegang tangan anaknya untuk melambai kepadaku. Aku pergi menuju wisma yang telah dipesan oleh Gandi.

***

Secarik kertas disodorkan kepadaku setelah kedua belah pihak menyelesaikan presentasinya. Kami saling berhadapan di suatu meja di dalam ruangan yang telah kami janjikan untuk bertemu. Pria yang memakai jas berwarna hitam dengan kemeja putih, simpul dasi yang lebar dan menyembul membuatku bisa menebak simpul itu berjenis Windsor, dan tangannya yang melipat di atas meja sebagai penumpu badannya membuat Gandi Herlambang terlihat elit dan elegan.

Orang yang sejurusan dengan Rahmi ini membuatku ingin sedikit berbincang-bincang. Aku lihat kembali selembar kertas itu, di sana tertulis namaku. Aku lihat juga jam tangan, sepertinya tidak perlu terburu-buru untuk menandatangani kontrak ini.

“Dunia ini sempit ya.” Aku mencoba untuk merilekskan suasana dan badan. “Apakah Anda mengenal Rahmi?”
“Rahmi? Nur Rahmi? Jika iya, saya mengenalnya,” tanggapnya.
“Iya saya teman SMAnya dulu. Melihat data diri Anda mengingatkan saya bahwa dia ternyata sejurusan dengan Anda ketika kuliah.”

Mendengar perkataanku, Gandi seperti menahan ketawanya dan akhirnya lepas juga.

“Hahaha, Nur Rahmi. Kandidat mahasiswi berprestasi tingkat nasional waktu itu. Apakah Anda tahu sekarang dia jadi apa?”

Aku yang sudah tahu hanya terdiam mendengarkan kelanjutannya.

“Ibu rumah tangga! Bayangkan, hanya menjadi ibu rumah tangga! Melihatnya saya geli, mukanya mau ditaruh di mana? Motto-nya tentang ‘women can also do what they want to do’ maksudnya jadi ibu rumah tangga? Jangan bercanda! Melihatnya sekarang membuat saya ingin tertawa di depan mukanya.”

Aku bisa melihat Gandi seperti puas dengan keadaan Rahmi sekarang. Aku geram, tetapi bersyukur aku sempat berbincang-bincang dulu dengannya.

“Memang, wanita tetaplah wanita, pikirannya sempit. Terbuai oleh cinta, lalu melupakan tujuannya. Dasar bodoh, tidak mempunyai masa depan!”

Mendengar perkataan terakhirnya rasanya aku ingin sekali menonjok mukanya yang sok itu dan berteriak ‘justru pikiran lo yang sempit!’ di depan wajahnya. Tetapi syukurlah, kemarahan ini bisa aku redam.

Dengan tenang, aku melihat kembali jam tangan dan mulai menggoreskan penaku di atas kertas persetujuan itu. Tidak untuk tanda tangan, tetapi mencoretnya dari ujung kiri bawah ke ujung kanan atas.

“Negosiasi dibatalkan,” ucapku datar.
“Kenapa dibatalkan?” tanya Gandi sedikit terkejut melihat tindakanku.
“Anda menawarkan sesuatu yang bisa perusahaan kami lakukan juga,” dalihku menutupi kekesalanku.

Gandi menjelaskan kembali keuntungan jika aku bekerja sama dengannya. Berusaha meyakinkanku agar aku berubah pikiran. Mengurangi persyaratan-persyaratan yang pikirnya akan menyusahkanku. Sikap dia yang terlihat mengemis membuatku sangat jengkel.

Aku berdiri, menyobek kertas persetujuan kontrak itu dan meremasnya di depan wajahnya, membuangnya ke tempat sampah lalu berbalik pergi meninggalkannya. Aku tidak akan berubah pikiran.

“Apakah Anda yakin? Anda akan menyesal! Anda akan menyesal” teriaknya, mungkin sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

Aku yang berlalu berjalan keluar menuju pintu tidak menghiraukannya. Tidak ada yang perlu disesali jika aku menolak bekerja sama dengan orang rendahan ini.

“Tidak perlu khawatir, biar saya yang membayar semua biaya pertemuan ini,” ucapku sambil menutup pintu meninggalkan ruangan itu.

***

Aku menghampiri suatu tempat makan di pinggir jalan. Terdapat plang besar bertuliskan ‘Bubur Maryam’ di atas pintu masuknya. Riuh suasana dan banyaknya pelanggan ketika aku masuk membuatku yakin rasa bubur maryam ini bisa mengobati kejengkelan setelah pertemuanku dengan Gandi tadi.

Pesananku akhirnya datang juga, aku santap bubur itu. Syukurlah dugaanku benar, rasa bubur yang tidak mengecewakan. Di tengah-tengah proses makanku, seseorang merangkulku dari belakang dan berbisik di telingaku,

“Buburnya gratis.”

Aku reflek langsung menoleh ke belakang. Suara dan gayanya yang tidak berubah semenjak enam tahun yang lalu. Mukanya yang ceria dan selalu bersemangat. Kaos polos bertuliskan ‘YOLO’ di dadanya itu memang cocok dengannya. Ditambah sekarang dia mengenakan kopiah.

“Yahya?” tanyaku meyakinkan.
“Hihihi. Hai Assalamualaikum, Zaky! Bagaimana kabarmu?” Yahya menyodorkan tangannya.

Sial, Rahmi dan Yahya sama saja, aku yang ditanya duluan oleh mereka ‘bagaimana kabarmu’ membuatku seolah-olah akulah yang perlu dikhawatirkan dalam menjalani kehidupan ini.

TAMAT

Iklan

2 Comments

    • Maksudnya nama2 tokoh? Kalau nama Zaky Arya, aku bener2 nyari, Zaky artinya pinter, kalau Arya artinya pertama. Terus kalau Nur Rahmi, Nur itu cahaya (saya artikan lagi cahaya itu bisa petunjuk) dan Rahmi itu kasih sayang. Nama yang aku kasih ke toko itu bermula dari awal aku ngebentuk karakter, setelah udah kebentuk watak tokoh, latar belakang tokoh, dan lain sebagainya, baru aku kasih nama yg cocok untuk penokohan/karakter yg udah aku bentuk itu. Sisanya, seperti Yahya dan Aisyah itu aku ngebayang2in aja nama islami yg enak di denger apa.
      Dan kalau bubur Maryam, itu. Maryam ada hubungan darah dengan Yahya, saudara sepupuan.
      Begitu.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s