Pengembara Jalanan (#prompt 10: “Fatamorgana.” From Bram Y. Setiadi)

image source: flickr.com

Cahaya matahari yang bersinar terik menusuk kulit Angga yang sedang berjalan sendirian di suatu jalan. Lidahnya yang dari tadi menjulur seperti orang yang benar-benar kehausan, padahal baru beberapa jam yang lalu dia membeli es krim dari warung yang dilewatinya.

---Writting prompt adalah
suatu kata kunci /ide /gagasan atau apa pun
untuk memulai suatu tulisan
tulisan yang dibuat ditulis dengan
spontan dan tidak ada editting setelahnya.
kali ini saya akan menulis dengan prompt:
"Fatamorgana."---

Perut yang keroncongan mendukung penyiksaan Angga yang dari tadi kepanasan. Suara raungan macan yang ‘bersemayam’ di dalam perutnya terus memberontak seperti mengatakan “Aku kelaparan!” tidak kunjung diam. Tangan Angga mengelus-elus perutnya seperti seorang pawang ulung yang sedang menjinakan macannya.

“Boy, bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai ke pengisian.”

Jalanan begitu sepi dan panas, sehingga membentuk fatamorgana di lantai jalannya. Angga tetap berjalan, merogoh sakunya, dia menemukan uang—uang kemballian dari warung yang tadi. Angga clingak-clinguk melihat sekitar, berharap ada kendaraan yang melintas, sehingga dia bisa memita bantuan dan memberi imbalan dengan uang yang dipunyanya.

Kepala angga sudah sedikit pusing. Mata Angga lamat-lamat melihat suatu warung.

“Yeay, lihat, boy! Ada warung!” sambil mengelus perutnya Angga terlihat girang.

Angga mempercepat langkahnya, sambil diiringi raungan perut yang terus memberontak. Tetapi semakin dia dekat dengan tujuan, semakin warung itu menghilang dari penglihatnya.

“Ah, sial! Ternyata fatamorgana, aku kira fatamorgana itu hanya berbentuk air yang menggenang. Bersabarlah, boy. Kita akan mencari warung lain.”

Angga melanjutkan perjalanannya.

Pohon terlihat bagaikan tempat terindah yang dilihat oleh angga saat itu. Dia mempercepat langkahnya untuk berteduh. Kali ini pohon itu asli. Angga menyandarkan badannya ke pohon itu, beristirahat sejenak.

“Apapun, asal layak dikonsumsi,” gumamnya.

Lama-kelamaan mata Angga menjadi sayu. Wajar dia lelah yang dari tadi menempuh jalan yang panjang di tengah teriknya matahari yang begitu menyengat. Angga memutuskan untuk tidur sejenak.

Alam seperti kasihan melihat insan yang kelaparan dan kehausan. Awan berkumpul berubah warna menjadi abu-abu. Rintik hujan mulai membasahi bumi. Tetes hujan yang mengenai pipinya membuat Angga yang sedang lelap tertidur terbangun. Hujan semakin lama semakin lebat, deras sekali.

“Hujan, hujan, hujan!” seru Angga.

Angga meloncat-loncat sambil membuka tangannya. Mendongak sambil membuka mulutnya.

Mungkin menurut kita hujan merupakan fenomena yang sangat biasa. Tetapi tidak untuk Angga, hujan telah memberikannya kesempatan untuk melanjutkan hidup.

TAMAT

Iklan

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s