Menemukan

image source: unsplash.com

Apa yang kau pikirkan?

Apa yang kupikirkan?

Dulu, kita merancang visi yang sama.

Menjalin misi bersama.

Tapi sekarang berbeda.

Bukan masalah kau buruk, atau aku buruk.

Baca lebih lanjut

Iklan

Cermati

image source: unsplash.com

Yang ini merasa benar

Yang itu ingin didengar

Semuanya memang begitu

Lalu, siapa yang mengalah?

Coba, redakan sedikit ego

Cermati nadanya, diksinya, suasananya, motifnya

Gunakan seluruh indra yang ada sehingga mengkrucut menjadi: maksudnya.

Tidakkah itu lebih menarik? Memahami setiap makna yang akan disampaikan

Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkutat di pikiran dengan lebih baik.

Bukan benar.

Kota yang Terlupakan

image source: unsplash.com

Selamat datang di kota Haturaja! Jika kalian bertanya tempat apa yang paling indah, maka jawabannya adalah Haturaja. Paling tenang, Haturaja; paling teduh, Haturaja; paling hijau, Haturaja. Kota yang paling didamba-dambakan oleh seluruh makhluk hidup. Tempat yang paling dilindungi karena keelokannya. Wilayah yang sudah ada sejak satu juta tahun yang lalu, tidak ada renovasi besar-besaran secara sengaja, biarkan alam yang mengukir wilayah itu.

Baca lebih lanjut

Penghilang Depresi Bagi Asep

image source: unsplash.com

Langit siang begitu bersih tidak ada awan sama sekali, itu berbeda dengan perasaan seorang pria yang sedang duduk di bawah sambil menatapnya. Pria itu menghelakan nafas panjang, merenungi nasib yang dipikulnya. Jika awan diibaratkan sebagai noda-noda dari langit yang biru, maka hati pria itu sedang banyak awannya—perasaan pria itu sedang campur aduk.

Kaki kirinya menghentak-hentakan tanah. Tak sabar untuk segera menemukan solusi dari pikirannya. Masalah yang sedang dialami oleh pria itu adalah: gagal wawancara. Tidak hanya kali ini saja dia gagal wawancara, sudah lebih dari 10 kali nama dia tidak dipanggil-panggil lagi di perusahaan yang berbeda.

Baca lebih lanjut

Beyond Absolute Pitch

image source: unsplash.com

Seorang yang memakai jaket berkupluk itu ­duduk sambil menunduk. Dia menempelkan tangan kanan ke dahinya. Memijitnya, terkadang mengetuk-ketuk dengan jari telunjuknya. Dia sedang berpikir. Di hadapannya terdapat seorang kenek yang sedang memegang beberapa lembar uang, menawarkan tarif kepada setiap penumpang bus ini.

Perjalanan dari kota Bandung ke Cianjur bagi sebagian orang mungkin membosankan. Jalur ini sama seperti jalur puncak yang memiliki jalan naik-turun dan berliku, hanya saja tidak memiliki pemandangan sebagus jalur puncak. Walaupun kedua jalur yang seperti cacing kepanasan itu bisa membuat orang mabuk darat, tapi setidaknya jika melewati jalur puncak, masalah mabuk darat bisa tertutupi dengan terbentangnya kebun teh dan ‘miniatur’ kota Bogor dan Cianjur yang memanjakan mata.

Baca lebih lanjut

Aku, Dia Beserta Imajinasiku.

image source: unsplash.com

Jika seseorang bertanya kepadaku apa eskrim yang kusuka, maka aku akan menjawab: tempatnya. Maksudku, bukan tempat eskrim seperti cup atau cone, tapi tempat di cafe itu. Iya, cafe itu, cafe seberang yang sedang kulihat dari cafe eskrim yang kusinggahi ini. Banyak orang yang kesal karena salah sangka kepadaku, aku tak peduli.

Di cafe seberang itu terdapat seorang pria yang rutin singgah di sana. Aku sampai hafal kapan dia ada di situ beserta pakaian yang dia pakai. Senin, dia mengenakan kemeja. Rabu, dia selalu mengenakan jaket. Sabtu, dia mengenakan kaos.

Baca lebih lanjut

Jiwa-jiwa Pembunuh

image source: unsplash.com

Pedang yang telah dihunuskan itu tak seperti kebanyakan pedang. Warnanya hitam seolah memiliki masa lalu yang kelam. Auranya pekat seperti telah melakukan dosa yang terlaknat. Jika diperhatian lebih teliti, bekas aliran darah bisa terlihat di ujung mata pedang. Semua orang yang melihat pedang itu bisa menduga, bahwa ia telah terkutuk.

“Hei, Lio,” ucap pria yang menghunus pedang terkutuk itu. Pria itu sumringah sambil menjulurkan lidahnya, “Sudah berapa banyak manusia yang kau bunuh?”

Baca lebih lanjut